Banda Aceh — Pelestarian manuskrip Aceh membutuhkan lebih dari sekadar penyimpanan naskah-naskah lama. Dibutuhkan upaya untuk mendokumentasikan, mengkaji, mengenalkan, dan memastikan warisan pengetahuan tersebut tetap dapat dipahami oleh generasi berikutnya. Semangat inilah yang menjadi salah satu perhatian Yuhamar, Ketua/Koordinator Portal Pernaskahan Aceh (PORNASA).
PORNASA merupakan salah satu program di bawah Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI) yang bergerak dalam pengembangan, dokumentasi, penelitian, dan pengenalan warisan pernaskahan Aceh. Dalam berbagai kegiatannya, Yuhamar mengambil peran dalam mengoordinasikan program yang mempertemukan kajian manuskrip dengan kebutuhan pelestarian budaya di tengah perkembangan teknologi dan perubahan generasi.
Mempertemukan Manuskrip dengan Generasi Muda
Salah satu perhatian utama Yuhamar melalui PORNASA adalah bagaimana manuskrip tidak hanya dipandang sebagai benda peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang masih memiliki relevansi bagi masyarakat masa kini.
Pandangan tersebut diwujudkan melalui program PORNASA Saweu Sikula, sebuah kegiatan yang memperkenalkan manuskrip, aksara Arab–Melayu atau Jawi, serta warisan intelektual Aceh kepada generasi muda di lingkungan sekolah. Program tersebut dikoordinasikan oleh Yuhamar bersama anggota PORNASA.
Menurut pendekatan yang dikembangkan PORNASA, naskah lama menyimpan berbagai informasi mengenai agama, bahasa, sastra, sejarah, adat, pendidikan, pengobatan, hingga kehidupan sosial masyarakat Aceh. Karena itu, pengenalan manuskrip kepada siswa menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran terhadap warisan intelektual daerah.
Memiliki Ketertarikan pada Kajian Manuskrip dan Bahasa
Perhatian Yuhamar terhadap dunia pernaskahan juga memiliki keterkaitan dengan latar belakang akademiknya. Dalam Repository UIN Ar-Raniry, tercatat karya akademik Yuhamar yang membahas “Al Makhtutat Al Murabba fii Hukmi Al Mazahib Al Arba (Tahqiq An Nash wa Afkaruhu)”, yang menunjukkan keterlibatannya dalam kajian terhadap manuskrip dan teks.
Selain kajian manuskrip, Yuhamar juga tercatat sebagai salah satu penulis artikel mengenai retorika bahasa politik dengan pendekatan sosiolinguistik yang diterbitkan dalam An-Nahdah Al-'Arabiyah. Artikel tersebut ditulis bersama Zulkhairi Sofyan dan diterbitkan pada Volume 1 Nomor 2 tahun 2021.
Jejak akademik tersebut memperlihatkan adanya keterhubungan antara kajian bahasa, sastra, teks, dan manuskrip yang menjadi bagian penting dalam pengembangan kegiatan PORNASA.
Dari Manuskrip Menuju Digitalisasi
Di bawah koordinasi Yuhamar, PORNASA juga memberikan perhatian terhadap pemanfaatan teknologi digital dalam pelestarian naskah. Digitalisasi menjadi salah satu strategi untuk memperluas akses terhadap manuskrip sekaligus membantu mengurangi intensitas penggunaan langsung terhadap naskah asli.
Melalui dokumentasi digital, naskah dapat diperkenalkan kepada masyarakat melalui berbagai media. Langkah tersebut juga membuka peluang bagi peneliti, mahasiswa, guru, pelajar, dan masyarakat untuk mengenal warisan pernaskahan Aceh tanpa harus selalu mengakses fisik naskah.
Dalam kegiatan PORNASA Saweu Sikula, pendekatan digital ditempatkan sebagai bagian dari proses memperkenalkan manuskrip kepada generasi yang semakin dekat dengan teknologi.
Mendorong Regenerasi Pembaca Manuskrip Aceh
Salah satu tantangan besar dalam pelestarian manuskrip adalah keterbatasan generasi yang mampu membaca dan memahami aksara serta bahasa yang digunakan dalam naskah lama.
Persoalan tersebut menjadi perhatian penting PORNASA. Pengenalan aksara Arab–Melayu atau Jawi kepada generasi muda dipandang sebagai salah satu langkah untuk membangun regenerasi pembaca manuskrip.
Melalui kegiatan edukatif di sekolah, siswa dapat diperkenalkan secara bertahap pada bentuk manuskrip, aksara, teks Arab–Melayu, transliterasi sederhana, hingga pentingnya dokumentasi dan pelestarian naskah.
Dengan demikian, pelestarian manuskrip tidak berhenti pada kegiatan konservasi, tetapi berkembang menjadi proses transfer pengetahuan dan regenerasi keilmuan.
Membangun PORNASA sebagai Ruang Kolaborasi
Yuhamar memandang pelestarian pernaskahan sebagai kerja bersama. Manuskrip Aceh memiliki keterkaitan dengan berbagai bidang, mulai dari filologi, bahasa, sastra, sejarah, pendidikan, keislaman, budaya, hingga teknologi informasi.
Karena itu, PORNASA memiliki ruang yang luas untuk membangun kolaborasi dengan perguruan tinggi, madrasah, dayah, sekolah, museum, perpustakaan, komunitas budaya, peneliti, dan masyarakat pemilik naskah.
Kolaborasi tersebut penting agar proses inventarisasi, dokumentasi, digitalisasi, transliterasi, penelitian, dan publikasi manuskrip dapat dilakukan secara berkelanjutan.
Menjadikan Manuskrip sebagai Sumber Pengetahuan Masa Depan
Bagi Yuhamar dan PORNASA, manuskrip bukan sekadar peninggalan sejarah. Di dalamnya terdapat rekaman pengetahuan dan pengalaman masyarakat yang dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi masa kini dan masa depan.
Karena itu, upaya memperkenalkan manuskrip harus dilakukan dengan pendekatan yang lebih terbuka dan adaptif. Manuskrip perlu dihadirkan dalam ruang pendidikan, penelitian, literasi digital, dan berbagai bentuk kegiatan kebudayaan.
Melalui PORNASA, Yuhamar berupaya membangun kesadaran bahwa menjaga manuskrip berarti menjaga memori, pengetahuan, bahasa, dan identitas intelektual Aceh.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari misi Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia dalam mengembangkan penelitian, pendidikan, digitalisasi manuskrip, serta pelestarian bahasa, sastra, dan warisan budaya.
Ke depan, PORNASA diharapkan dapat berkembang sebagai salah satu ruang yang mempertemukan manuskrip Aceh, penelitian, teknologi digital, pendidikan, dan generasi muda, sehingga warisan pernaskahan Aceh tidak hanya tersimpan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi terus dibaca, dikaji, dan dimanfaatkan sebagai sumber pengetahuan.
