Ketua YPCI dan Ketua PORNASA Kunjungi Museum Al-Qur’an Nagan Raya, Dorong Pelestarian Manuskrip Aceh

Nagan Raya — Komitmen terhadap pelestarian manuskrip dan warisan intelektual Aceh terus diperkuat oleh Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI). Ketua YPCI bersama Yuhamar selaku Ketua Portal Pernaskahan Aceh (PORNASA) melakukan kunjungan ke Museum Al-Qur’an di Nagan Raya sebagai bagian dari upaya memperluas jejaring dan melihat secara langsung khazanah pernaskahan Islam yang tersimpan di wilayah tersebut.

Museum Al-Quran berada di kawasan Jeuram, Kecamatan Seunagan, Kabupaten Nagan Raya. Koleksi Al-Qur’an kuno Nagan Raya sebelumnya diketahui menjadi bagian penting dari kekayaan sejarah dan wisata religi daerah tersebut.

Melihat Langsung Kekayaan Mushaf Kuno Nagan Raya

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi YPCI dan PORNASA untuk melihat secara langsung koleksi mushaf Al-Qur’an kuno yang memiliki nilai sejarah, keagamaan, dan filologis.

Keberadaan koleksi Al-Qur’an kuno di Nagan Raya telah mendapat perhatian luas. Pada 2021, Pemerintah Kabupaten Nagan Raya dilaporkan memiliki puluhan Al-Qur’an kuno dengan usia sekitar 150 hingga 500 tahun, yang sebelumnya disimpan di Sekretariat Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Nagan Raya di kawasan Jeuram. Koleksi tersebut juga pernah mendapatkan penghargaan MURI sebagai pameran Al-Qur’an kuno terbanyak di Indonesia.

Kekayaan tersebut menunjukkan bahwa Nagan Raya memiliki posisi penting dalam peta pelestarian warisan manuskrip Islam di Aceh.

PORNASA Dorong Kajian dan Dokumentasi Manuskrip

Bagi PORNASA, kunjungan ini memiliki arti strategis karena manuskrip tidak hanya perlu dijaga secara fisik, tetapi juga perlu didokumentasikan dan dikaji agar kandungan pengetahuannya dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Yuhamar, selaku Ketua PORNASA, melihat keberadaan mushaf kuno sebagai bagian dari sumber pengetahuan yang dapat dikembangkan melalui penelitian filologi, kajian sejarah, bahasa, kaligrafi, dan studi keislaman.

Upaya tersebut sejalan dengan perkembangan pelestarian manuskrip di Aceh yang mulai memanfaatkan teknologi digital. Salah satu contohnya adalah penyalinan kembali Mushaf Baiturrahman berdasarkan versi digital manuskrip aslinya yang tersimpan di Leiden, Belanda.

YPCI Perkuat Jejaring Pelestarian Warisan Budaya

Kunjungan Ketua YPCI bersama Ketua PORNASA juga menjadi bagian dari upaya membangun jejaring dengan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap manuskrip, sejarah, bahasa, sastra, dan kebudayaan Aceh.

YPCI memandang bahwa pelestarian manuskrip membutuhkan kolaborasi antara lembaga penelitian, perguruan tinggi, pemerintah, museum, komunitas, serta masyarakat pemilik dan pengelola naskah.

Kolaborasi tersebut dapat mencakup inventarisasi koleksi, dokumentasi, digitalisasi, penelitian, transliterasi, penerjemahan, hingga publikasi hasil kajian.

Dengan pendekatan tersebut, manuskrip tidak hanya ditempatkan sebagai benda bersejarah, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat terus dipelajari dan dimanfaatkan.

Membuka Peluang Pengembangan Digitalisasi Manuskrip

Salah satu peluang yang dapat dikembangkan dari kunjungan tersebut adalah pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung dokumentasi dan pengenalan koleksi Al-Qur’an kuno kepada masyarakat.

Digitalisasi dapat menjadi sarana untuk membuat informasi mengenai manuskrip lebih mudah diakses oleh peneliti, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum. Pada saat yang sama, dokumentasi digital dapat menjadi salah satu bentuk perlindungan pengetahuan ketika akses terhadap naskah fisik perlu dibatasi.

Bagi PORNASA, langkah tersebut dapat menjadi bagian dari pengembangan ekosistem pernaskahan Aceh yang menghubungkan manuskrip, penelitian, pendidikan, teknologi digital, dan pelestarian budaya.

Menjadikan Manuskrip sebagai Warisan Pengetahuan

Kunjungan ke Museum Al-Qur’an Nagan Raya memperkuat pandangan bahwa Aceh memiliki kekayaan manuskrip yang perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda.

Koleksi Al-Qur’an kuno yang pernah dipamerkan di Nagan Raya menunjukkan keberagaman bentuk dan bahan manuskrip. Dalam pameran PKA ke-8, misalnya, salah satu mushaf kuno Nagan Raya disebut menggunakan daun lontar hitam (ie boeh) sebagai media tulis, sementara koleksi lainnya menggunakan kertas Parsi.

Keunikan tersebut memperlihatkan bahwa manuskrip bukan hanya menyimpan teks, tetapi juga merekam perkembangan teknologi penulisan, seni, pengetahuan, dan hubungan intelektual masyarakat pada masa lalu.

Menuju Kolaborasi Pelestarian Pernaskahan Aceh

Melalui kunjungan ini, YPCI dan PORNASA diharapkan dapat terus memperluas kerja sama dalam bidang pernaskahan, khususnya dalam dokumentasi dan pengembangan kajian manuskrip Aceh.

Kegiatan tersebut sekaligus menegaskan komitmen PORNASA untuk menjadikan pelestarian manuskrip sebagai gerakan yang melibatkan berbagai unsur masyarakat. Dengan dukungan teknologi dan kolaborasi akademik, khazanah manuskrip Aceh diharapkan tidak hanya tersimpan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat menjadi sumber pengetahuan bagi masa kini dan generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *