Banda Aceh – Pembina Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI), Dr. Zulkhairi Sofyan, M.A., bersama tim kerja melakukan kunjungan ke Balai Bahasa Provinsi Aceh dalam rangka menjajaki peluang kerja sama penyusunan Kamus Tematik Arab–Aceh, khususnya yang berfokus pada kosakata bahasa Arab yang diserap dan digunakan dalam naskah-naskah berbahasa Aceh karya tokoh dan ulama Aceh.
Gagasan penyusunan kamus tersebut diarahkan pada upaya inventarisasi, identifikasi, dan dokumentasi kosakata serapan Arab yang terdapat dalam berbagai khazanah manuskrip dan karya intelektual Aceh. Di antaranya adalah naskah-naskah yang berkaitan dengan karya atau tradisi intelektual Sultan Safiyyat al-Din Syah, Teungku Syik Kuta Karang, Hamzah Fansuri, dan Syamsuddin al-Sumatrani, serta tokoh-tokoh Aceh lainnya.
Penyusunan kamus tematik Arab–Aceh ini diharapkan tidak hanya menjadi upaya dokumentasi kebahasaan, tetapi juga dapat membuka ruang kajian lebih luas mengenai hubungan historis antara bahasa Arab dan bahasa Aceh, perkembangan tradisi intelektual Islam di Aceh, serta proses penyerapan kosakata Arab ke dalam bahasa lokal melalui manuskrip dan karya-karya ulama terdahulu.
Dalam kunjungan tersebut, rombongan YPCI disambut oleh Kepala Subbagian Umum Balai Bahasa Provinsi Aceh, Dr. Baun Thoib Soaloon SGR, S.Ag., M.Ag., bersama Murhaban, S.Ag., M.A., Fungsional Widyabasa Ahli Muda Balai Bahasa Provinsi Aceh.
Dr. Baun menyampaikan apresiasi terhadap gagasan penyusunan kamus tematik Arab–Aceh yang diprakarsai oleh YPCI. Menurutnya, inisiatif tersebut memiliki nilai penting dalam bidang kebahasaan, pernaskahan, dan pelestarian khazanah intelektual Aceh.
“Kami sangat mengapresiasi gagasan pembuatan kamus tematik ini yang diprakarsai oleh YPCI. Semoga program ini dapat terealisasi dalam waktu dekat dan memberikan manfaat bagi pengembangan kajian bahasa serta pelestarian khazanah intelektual Aceh,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya membangun kerja sama kelembagaan yang lebih terstruktur melalui Nota Kesepahaman (MoU) antara Balai Bahasa Provinsi Aceh dan Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia. Kerja sama tersebut diharapkan tidak hanya terbatas pada penyusunan kamus, tetapi dapat dikembangkan menjadi berbagai program jangka panjang dan berkelanjutan di bidang kebahasaan, kesastraan, penelitian, publikasi, serta pelestarian manuskrip.
Sementara itu, Dr. Zulkhairi Sofyan, M.A. menyampaikan bahwa penyusunan kamus tematik Arab–Aceh merupakan salah satu upaya untuk mempertemukan kajian filologi, linguistik, leksikografi, dan sejarah intelektual Aceh. Naskah-naskah lama Aceh menyimpan kekayaan kosakata yang menunjukkan kuatnya interaksi bahasa Arab dengan bahasa Aceh dalam berbagai bidang, seperti agama, pemerintahan, sosial, budaya, pendidikan, dan kehidupan masyarakat.
Melalui penjajakan kerja sama ini, YPCI berharap dapat membangun sinergi dengan Balai Bahasa Provinsi Aceh dalam melakukan pemetaan sumber naskah, pengumpulan data kosakata, penyusunan basis data leksikal, kajian etimologis dan semantis, hingga penerbitan kamus dalam bentuk cetak maupun digital.
Kunjungan tersebut menjadi langkah awal bagi kedua lembaga untuk membangun kolaborasi yang lebih strategis dalam pengembangan penelitian dan dokumentasi bahasa Aceh, sekaligus memperkuat upaya pelestarian warisan bahasa, sastra, manuskrip, dan khazanah intelektual Aceh agar dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
