Dari Keilmuan Menjadi Peluang: Ketua YPCI Dorong Mahasiswa UNIDA Gontor Berani Menjadi Edupreneur

Ponorogo – Ketua Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI), Anshar Zulhelmi, M.A., menjadi narasumber dalam kegiatan Visiting Lecturer yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Senin, 20 Juli 2026/5 Safar 1448 H.

Kegiatan yang berlangsung di Main Hall UNIDA Gontor pada pukul 13.30–15.00 WIB tersebut mengangkat tema “One Step to be an Edupreneur”. Forum ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami peluang membangun kemandirian, kreativitas, dan inovasi melalui kewirausahaan yang berangkat dari latar belakang pendidikan dan keilmuan.

Dalam pemaparannya, Anshar Zulhelmi menekankan bahwa mahasiswa tidak cukup hanya mempersiapkan diri sebagai pencari kerja setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Generasi muda juga perlu memiliki keberanian untuk menciptakan ruang kerja, merancang inovasi, dan mengubah kompetensi akademik menjadi produk maupun layanan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Menurutnya, konsep edupreneurship dapat menjadi salah satu jembatan yang menghubungkan dunia pendidikan dengan kewirausahaan. Pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan dapat dikembangkan menjadi berbagai program kreatif, seperti layanan pembelajaran, kursus bahasa, penerbitan dan produksi bahan ajar, media edukasi digital, pelatihan, konsultasi pendidikan, hingga pengembangan platform berbasis teknologi.

Ia juga mengajak mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab untuk melihat bahasa Arab sebagai bidang keilmuan yang memiliki peluang pengembangan luas. Kemampuan bahasa dapat dipadukan dengan teknologi, kreativitas, literasi digital, publikasi, dan kewirausahaan sehingga melahirkan berbagai inovasi yang tidak hanya bernilai akademik, tetapi juga memiliki nilai sosial dan ekonomi.

Sebagai Ketua YPCI, Anshar turut berbagi perspektif mengenai pentingnya membangun lembaga dan ekosistem yang dapat menjadi ruang pengembangan gagasan generasi muda. Menurutnya, sebuah ide dapat berkembang menjadi program yang berkelanjutan apabila didukung oleh kemampuan membaca kebutuhan masyarakat, membangun jejaring, bekerja secara kolaboratif, serta memiliki keberanian untuk memulai dari langkah sederhana.

“Menjadi edupreneur tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Yang paling penting adalah mampu melihat masalah di sekitar, menemukan solusi berbasis keilmuan yang dimiliki, kemudian mengembangkannya secara kreatif, konsisten, dan bermanfaat,” ujarnya.

Kegiatan Visiting Lecturer tersebut diikuti oleh tujuh mahasiswa semester 7 Program Studi Pendidikan Bahasa Arab dan dua orang dosen, dengan total sembilan peserta. Diskusi berlangsung secara interaktif dengan pembahasan seputar pengembangan ide usaha pendidikan, pemanfaatan teknologi digital, pembangunan jejaring, serta langkah awal membangun program berbasis kompetensi mahasiswa.

Kehadiran Ketua YPCI dalam forum tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring akademik dan kelembagaan antara organisasi yang bergerak di bidang pendidikan, penelitian, publikasi, dan pengembangan keilmuan dengan perguruan tinggi.

Melalui kegiatan ini, YPCI mendorong tumbuhnya generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu menghadirkan inovasi, membangun kemandirian, serta menciptakan program-program pendidikan yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

Visiting Lecturer di UNIDA Gontor ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperkuat budaya inovasi dan kewirausahaan di kalangan mahasiswa, sekaligus membuka peluang kolaborasi lebih luas dalam bidang pendidikan, bahasa Arab, publikasi, pengembangan sumber daya manusia, dan kewirausahaan berbasis pengetahuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *