Perkuat Pelestarian Manuskrip, YPCI dan Prodi BSA Gelar Kolaborasi Praktikum Filologi di Pedir Museum

Banda Aceh – Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI) memperkuat kolaborasi dengan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh melalui kegiatan Praktikum Filologi di Pedir Museum. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya mengintegrasikan pembelajaran akademik, penelitian, dan pelestarian manuskrip sebagai warisan intelektual Aceh.

Kegiatan praktikum memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mempelajari secara langsung manuskrip sebagai objek utama kajian filologi. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoretis di ruang kuliah, tetapi juga berinteraksi dengan koleksi manuskrip, mengenali karakteristik fisik naskah, aksara, bahasa, bahan, kondisi penyimpanan, serta kandungan teks yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat pada masa lalu.

Pedir Museum menjadi salah satu ruang penting bagi kegiatan tersebut karena memiliki koleksi peninggalan sejarah dan peradaban Aceh, termasuk manuskrip, mata uang, keramik, senjata, serta berbagai artefak lainnya. Koleksinya mencakup berbagai kategori peninggalan sejarah, termasuk koleksi yang berkaitan dengan filologi dan khazanah pernaskahan Aceh.

Melalui kolaborasi YPCI dan Prodi BSA UIN Ar-Raniry, kegiatan praktikum filologi diarahkan menjadi pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning. Mahasiswa diajak melihat bahwa filologi bukan sekadar kajian terhadap teks lama, melainkan bidang ilmu yang memiliki peran penting dalam menyelamatkan, membaca, menginterpretasikan, dan menghidupkan kembali pengetahuan yang tersimpan dalam manuskrip.

Dalam kegiatan praktikum, mahasiswa memperoleh pengalaman mengenai tahapan dasar kajian manuskrip, mulai dari identifikasi dan inventarisasi naskah, deskripsi kodikologis, pengenalan aksara Arab–Melayu atau Jawi, pembacaan teks, transliterasi, hingga pengenalan terhadap metode penyuntingan dan penelitian filologi.

Model pembelajaran lapangan tersebut penting bagi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab karena banyak manuskrip yang berkembang dalam tradisi intelektual Aceh dan dunia Melayu ditulis menggunakan bahasa Arab, bahasa Melayu beraksara Arab, serta berbagai bentuk penggunaan bahasa yang membutuhkan kompetensi khusus untuk membacanya.

Kolaborasi ini sekaligus memperkuat komitmen YPCI dalam bidang bahasa, sastra, filologi, manuskrip, penelitian, dan pelestarian warisan intelektual.

YPCI memandang bahwa perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam keberlanjutan pelestarian manuskrip. Melalui proses pembelajaran, mahasiswa dapat dipersiapkan menjadi generasi baru yang memiliki kemampuan untuk membaca, meneliti, mendokumentasikan, dan memperkenalkan kembali kekayaan intelektual yang tersimpan dalam naskah-naskah lama.

Karena itu, pelestarian manuskrip tidak cukup hanya dilakukan dengan menyimpan benda fisiknya. Manuskrip perlu masuk ke dalam ekosistem akademik melalui pengajaran, penelitian, digitalisasi, transliterasi, penerjemahan, publikasi, dan diseminasi kepada masyarakat.

Praktikum filologi di Pedir Museum menjadi salah satu contoh bagaimana museum dapat berfungsi sebagai laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa humaniora.

Melalui interaksi langsung dengan koleksi, mahasiswa dapat memahami perbedaan antara mempelajari manuskrip melalui reproduksi digital dengan menghadapi naskah asli. Mereka dapat mengamati secara langsung ukuran dan bahan naskah, jenis kertas, tinta, iluminasi, penjilidan, kondisi fisik, marginalia, kolofon, serta berbagai unsur lain yang penting dalam penelitian kodikologi dan filologi.

Di sisi lain, kegiatan ini juga membuka peluang bagi pengembangan penelitian mahasiswa dan dosen.

Data awal yang diperoleh melalui praktikum dapat dikembangkan menjadi topik penelitian mengenai bahasa dan sastra klasik, sejarah intelektual Islam, jaringan ulama, tradisi penyalinan naskah, filologi Arab–Melayu, kodikologi, paleografi, sejarah lokal, hingga transformasi pengetahuan masyarakat Aceh.

Kolaborasi YPCI dan Prodi BSA UIN Ar-Raniry juga diarahkan agar kegiatan akademik memiliki keberlanjutan. Praktikum tidak hanya berakhir pada kunjungan dan laporan mahasiswa, tetapi diharapkan berkembang menjadi proses penelitian yang dapat menghasilkan katalog naskah, transliterasi teks, kajian ilmiah, dokumentasi digital, serta artikel yang dapat dipublikasikan melalui jurnal ilmiah.

Dalam konteks tersebut, YPCI juga mendorong keterhubungan antara kegiatan lapangan dengan ekosistem publikasi yang dikembangkan melalui Jurnal Bahasa dan Sastra Pusaka Cendekia.

Hasil kajian yang memenuhi standar akademik, baik dalam bidang filologi, bahasa, sastra, manuskrip maupun kajian kebudayaan, dapat dikembangkan menjadi artikel ilmiah untuk melalui proses editorial dan peer review. Dengan demikian, terdapat mata rantai yang jelas antara praktikum, penelitian, penulisan ilmiah, dan publikasi.

Selain publikasi, dokumentasi manuskrip juga menjadi perhatian dalam program YPCI. Melalui pengembangan Portal Pernaskahan Aceh (PORNASA), YPCI mendorong terbentuknya ekosistem digital yang mendukung pendataan, dokumentasi, penelitian, dan penyebarluasan informasi mengenai khazanah manuskrip Aceh.

Ke depan, sinergi antara kegiatan praktikum filologi dan pengembangan PORNASA berpotensi menjadi model pembelajaran yang lebih terintegrasi. Mahasiswa dapat terlibat dalam proses identifikasi naskah, penyusunan metadata, deskripsi kodikologis, transliterasi, penelitian isi teks, hingga pengembangan informasi berbasis digital dengan tetap memperhatikan etika, hak kepemilikan, dan kebijakan lembaga penyimpan manuskrip.

Kolaborasi seperti ini juga memperlihatkan pentingnya membangun jejaring antara perguruan tinggi, yayasan, museum, komunitas pelestari sejarah, peneliti, dan masyarakat.

Pelestarian manuskrip membutuhkan kerja bersama karena tantangan yang dihadapi tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik naskah, tetapi juga keterbatasan tenaga ahli, regenerasi peneliti filologi, dokumentasi, akses penelitian, dan pemanfaatan teknologi digital.

Melalui kolaborasi YPCI dengan Prodi BSA UIN Ar-Raniry dalam kegiatan praktikum filologi di Pedir Museum, mahasiswa diharapkan semakin memahami bahwa manuskrip merupakan sumber primer yang sangat penting dalam merekonstruksi sejarah bahasa, sastra, agama, kebudayaan, dan perjalanan intelektual masyarakat Aceh.

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya menumbuhkan generasi baru peneliti filologi yang mampu memadukan kompetensi bahasa Arab dan Arab–Melayu dengan metodologi penelitian manuskrip serta pemanfaatan teknologi digital.

Ke depan, YPCI berharap kolaborasi pembelajaran semacam ini dapat terus dikembangkan melalui program praktikum filologi, penelitian kolaboratif, digitalisasi manuskrip, pelatihan transliterasi dan kodikologi, seminar, publikasi ilmiah, serta pengembangan basis data pernaskahan.

Dengan menghubungkan perguruan tinggi, museum, lembaga penelitian, dan masyarakat, manuskrip diharapkan tidak hanya tersimpan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dapat terus dibaca, diteliti, dipahami, dan diwariskan sebagai sumber pengetahuan bagi generasi mendatang.

Kolaborasi YPCI dan Prodi BSA UIN Ar-Raniry di Pedir Museum dengan demikian menjadi bagian dari komitmen bersama untuk memajukan pengetahuan, melestarikan warisan intelektual, serta memperkuat kajian filologi Arab–Melayu sebagai salah satu kekayaan akademik dan kebudayaan Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *