Banda Aceh – Portal Pernaskahan Aceh (PORNASA), salah satu program di bawah Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI), mengembangkan kegiatan “PORNASA Saweu Sikula” sebagai bagian dari upaya memperkenalkan manuskrip, aksara Arab–Melayu, dan warisan intelektual Aceh kepada generasi muda di lingkungan sekolah.
Program ini dikoordinasikan oleh Yuhamar selaku Koordinator PORNASA, bersama anggota PORNASA Qazwini bin Athaillah, yang juga merupakan Ketua Diniyah di MTsN 1 Banda Aceh.
PORNASA Saweu Sikula dirancang sebagai kegiatan edukatif yang mendekatkan siswa dengan kekayaan manuskrip dan tradisi literasi masyarakat Aceh. Melalui program ini, siswa diperkenalkan pada keberadaan naskah-naskah lama yang memuat beragam pengetahuan tentang agama, bahasa, sastra, sejarah, adat, pendidikan, pengobatan, dan kehidupan sosial masyarakat Aceh pada masa lalu.
Koordinator PORNASA, Yuhamar, menilai bahwa pengenalan manuskrip kepada generasi muda penting dilakukan sejak lingkungan sekolah. Hal ini karena keberlanjutan pelestarian naskah tidak hanya bergantung pada peneliti dan akademisi, tetapi juga pada tumbuhnya kesadaran generasi muda terhadap nilai sejarah dan intelektual yang terkandung dalam manuskrip.
Melalui PORNASA Saweu Sikula, siswa diharapkan tidak hanya mengenal manuskrip sebagai benda lama, tetapi juga memahami bahwa naskah merupakan rekaman pengetahuan dan peradaban yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Salah satu fokus kegiatan adalah pengenalan aksara Arab–Melayu atau Jawi, yang memiliki posisi penting dalam sejarah literasi masyarakat Aceh dan Nusantara. Selama berabad-abad, aksara tersebut digunakan untuk menulis berbagai teks keagamaan, sastra, surat-menyurat, hukum, adat, sejarah, dan pengetahuan masyarakat.
Namun, kemampuan membaca aksara Arab–Melayu saat ini semakin terbatas di kalangan generasi muda. Karena itu, PORNASA memandang bahwa sekolah menjadi ruang strategis untuk kembali memperkenalkan aksara tersebut melalui pendekatan yang sederhana, menarik, dan kontekstual.
Keterlibatan Qazwini bin Athaillah, anggota PORNASA yang juga menjabat sebagai Ketua Diniyah di MTsN 1 Banda Aceh, menjadi salah satu penghubung penting antara program pelestarian manuskrip dengan pendidikan keagamaan dan pembelajaran di lingkungan sekolah.
Posisi tersebut memungkinkan pengembangan kegiatan yang tidak hanya memperkenalkan bentuk naskah dan aksara, tetapi juga menghubungkan manuskrip dengan tradisi pendidikan Islam yang telah lama berkembang di Aceh.
Program PORNASA Saweu Sikula diarahkan untuk menjadi ruang pembelajaran yang interaktif. Siswa dapat diperkenalkan pada bentuk fisik manuskrip, berbagai jenis aksara, contoh teks Arab–Melayu, proses membaca dan transliterasi sederhana, serta pentingnya menjaga naskah sebagai bagian dari warisan budaya.
Selain itu, siswa juga dapat memahami proses pelestarian manuskrip, mulai dari inventarisasi, dokumentasi, digitalisasi, konservasi, transliterasi, penelitian hingga publikasi.
Dengan pendekatan tersebut, pelestarian manuskrip tidak hanya dipahami sebagai tugas museum, perpustakaan, atau akademisi, tetapi sebagai tanggung jawab bersama dalam menjaga identitas dan memori kolektif masyarakat.
PORNASA juga mendorong pemanfaatan teknologi digital dalam memperkenalkan manuskrip kepada generasi muda. Digitalisasi dinilai penting untuk memperluas akses terhadap naskah sekaligus mengurangi risiko kerusakan akibat penggunaan langsung terhadap manuskrip asli.
Melalui platform digital, generasi muda dapat mempelajari manuskrip dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari, tanpa menghilangkan nilai historis dan keilmuan dari naskah tersebut.
Program PORNASA Saweu Sikula juga memiliki potensi untuk dikembangkan dalam berbagai bentuk kegiatan, seperti kelas pengenalan Arab–Melayu, pelatihan membaca aksara Jawi, pameran manuskrip, lomba transliterasi, diskusi sejarah lokal, literasi budaya, serta pengenalan digitalisasi naskah.
Program ini diharapkan dapat membangun minat siswa terhadap bidang filologi, sejarah, bahasa, sastra, budaya, dan kajian keislaman.
Selain itu, kegiatan tersebut juga dapat menjadi salah satu upaya regenerasi pembaca naskah Arab–Melayu. Regenerasi menjadi penting karena salah satu tantangan dalam pelestarian manuskrip adalah semakin terbatasnya generasi yang mampu membaca dan memahami teks lama.
Dengan memperkenalkan manuskrip sejak usia sekolah, PORNASA berharap akan tumbuh generasi baru yang memiliki kepedulian terhadap warisan intelektual sekaligus memiliki kemampuan dasar untuk memahami aksara dan teks peninggalan masa lalu.
Program PORNASA Saweu Sikula juga sejalan dengan visi YPCI dalam mengembangkan pengetahuan, melestarikan warisan, dan memberdayakan masyarakat.
Melalui keterlibatan sekolah, guru, siswa, akademisi, peneliti, komunitas, dan masyarakat, pelestarian manuskrip diharapkan dapat berkembang menjadi sebuah gerakan bersama.
Ke depan, PORNASA berencana memperluas program Saweu Sikula ke berbagai sekolah dan lembaga pendidikan lainnya. Setiap kegiatan diharapkan dapat disesuaikan dengan tingkat pendidikan peserta sehingga pengenalan manuskrip dan Arab–Melayu dapat dilakukan secara bertahap dan menarik.
Program ini juga diharapkan membuka peluang kolaborasi dengan madrasah, sekolah umum, dayah, perguruan tinggi, museum, lembaga adat, komunitas sejarah, dan berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian warisan intelektual Aceh.
Melalui PORNASA Saweu Sikula, manuskrip tidak hanya disimpan dan dikenang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi dihadirkan kembali ke ruang pendidikan agar dapat dibaca, dipelajari, dipahami, dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Langkah ini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bahwa menjaga manuskrip berarti menjaga pengetahuan, sejarah, bahasa, dan identitas peradaban Aceh.
