Aceh – Ketua Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI) bersama Pembina YPCI dan Kepala Pedir Museum melakukan pengkajian terhadap sejumlah naskah sebagai bagian dari upaya memperkuat pelestarian khazanah manuskrip Aceh.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama dalam menjaga warisan intelektual yang tersimpan dalam naskah-naskah lama, khususnya manuskrip berbahasa Arab, Melayu, dan beraksara Arab–Melayu atau Jawi.
Pengkajian dilakukan dengan melihat kondisi fisik naskah, karakteristik tulisan, bahasa, kandungan teks, serta nilai historis dan keilmuan yang terdapat di dalamnya. Langkah ini penting sebagai dasar untuk menentukan bentuk dokumentasi, penelitian, digitalisasi, dan pelestarian yang sesuai terhadap setiap manuskrip.
Ketua YPCI menyampaikan bahwa manuskrip merupakan salah satu sumber primer penting dalam memahami sejarah intelektual masyarakat Aceh. Berbagai naskah lama memuat informasi tentang agama, bahasa, sastra, adat, sejarah, pendidikan, pengobatan, hukum, hingga kehidupan sosial masyarakat pada masa lalu.
Karena itu, penyelamatan manuskrip tidak cukup hanya dilakukan dengan menjaga fisik naskah. Kandungan pengetahuan di dalamnya juga perlu dikaji, didokumentasikan, ditransliterasi, diteliti, dan dipublikasikan agar dapat dimanfaatkan oleh generasi sekarang dan mendatang.
Keterlibatan Pembina YPCI dalam kegiatan tersebut turut memperkuat arah program yayasan dalam bidang pelestarian warisan bahasa, sastra, manuskrip, dan kebudayaan. YPCI mendorong agar kegiatan pelestarian naskah dilaksanakan melalui kolaborasi antara lembaga penelitian, museum, perguruan tinggi, komunitas, serta masyarakat pemilik dan penjaga manuskrip.
Sementara itu, sinergi dengan Kepala Pedir Museum menjadi bagian penting dalam menghubungkan pelestarian koleksi dengan kegiatan penelitian akademik.
Museum tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, tetapi juga memiliki potensi besar sebagai ruang penelitian, pendidikan, dan pengembangan pengetahuan tentang sejarah serta peradaban Aceh.
Melalui pengkajian bersama, setiap manuskrip dapat diidentifikasi secara lebih sistematis. Proses tersebut dapat meliputi pencatatan judul naskah, nama pengarang atau penyalin apabila diketahui, bahasa dan aksara, bahan naskah, jumlah halaman, kondisi fisik, kandungan teks, serta informasi mengenai asal-usul dan sejarah kepemilikannya.
Pendataan semacam ini merupakan langkah awal yang sangat penting dalam proses inventarisasi dan katalogisasi manuskrip.
Setelah dilakukan identifikasi, manuskrip yang memiliki risiko kerusakan perlu mendapatkan perhatian melalui langkah konservasi dan dokumentasi digital. Digitalisasi dapat menjadi salah satu strategi untuk mempertahankan informasi yang terdapat di dalam naskah sekaligus mengurangi frekuensi penggunaan langsung terhadap manuskrip asli.
Namun demikian, pelestarian digital tetap harus berjalan beriringan dengan konservasi fisik. Kondisi penyimpanan, suhu, kelembapan, perlindungan dari serangga, kualitas tempat penyimpanan, serta penanganan ketika naskah digunakan menjadi bagian yang perlu diperhatikan untuk menjaga keberlangsungan koleksi.
YPCI juga memandang bahwa hasil pengkajian manuskrip perlu dikembangkan menjadi penelitian akademik.
Naskah-naskah yang memiliki kandungan penting dapat diteliti menggunakan pendekatan filologi, kodikologi, paleografi, linguistik, sastra, sejarah, studi Islam, antropologi, maupun kajian budaya.
Melalui kajian tersebut, manuskrip tidak hanya diperlakukan sebagai benda warisan, tetapi sebagai sumber pengetahuan yang dapat membuka kembali berbagai aspek sejarah dan pemikiran masyarakat Aceh.
Kolaborasi antara YPCI dan Pedir Museum juga berpotensi dikembangkan melalui kegiatan transliterasi dan penyuntingan teks. Banyak manuskrip lama menggunakan aksara Arab–Melayu yang semakin sedikit dapat dibaca oleh generasi muda.
Karena itu, transliterasi menjadi salah satu langkah penting untuk menjembatani teks lama dengan pembaca masa kini. Setelah ditransliterasi, isi manuskrip dapat dikaji, diterjemahkan apabila diperlukan, serta dikembangkan menjadi bahan penelitian dan publikasi.
Dalam aspek publikasi, hasil pengkajian manuskrip diharapkan dapat dikembangkan menjadi artikel ilmiah, buku, katalog, maupun bentuk publikasi digital.
YPCI memiliki perhatian khusus terhadap pengembangan publikasi ilmiah melalui Jurnal Bahasa dan Sastra Pusaka Cendekia, yang dapat menjadi salah satu ruang diseminasi bagi penelitian yang berkaitan dengan bahasa, sastra, filologi, manuskrip, dan kebudayaan.
Selain itu, YPCI juga mengembangkan Portal Pernaskahan Aceh (PORNASA) sebagai wadah yang diarahkan untuk mendukung pendataan, dokumentasi, digitalisasi, penelitian, dan penyebarluasan informasi mengenai manuskrip Aceh.
Sinergi dengan museum dan pemilik koleksi diharapkan dapat memperkuat pengembangan basis data manuskrip sehingga informasi mengenai khazanah pernaskahan Aceh dapat dihimpun secara lebih sistematis.
Ketua dan Pembina YPCI menilai bahwa pelestarian manuskrip membutuhkan kolaborasi jangka panjang.
Kerja sama antara yayasan, museum, perguruan tinggi, pemerintah, lembaga adat, dayah, peneliti, mahasiswa, dan masyarakat sangat diperlukan untuk memastikan bahwa naskah yang masih tersebar di berbagai wilayah dapat ditemukan, didata, diselamatkan, dan dikaji.
Kegiatan bersama Kepala Pedir Museum ini diharapkan menjadi salah satu langkah untuk membangun ekosistem pelestarian manuskrip yang menghubungkan inventarisasi, konservasi, digitalisasi, penelitian, pendidikan, dan publikasi.
Dengan demikian, manuskrip yang selama ini tersimpan sebagai peninggalan keluarga atau koleksi sejarah dapat terus hidup sebagai sumber ilmu pengetahuan.
Ke depan, YPCI berkomitmen untuk terus memperluas kegiatan pengkajian dan pelestarian naskah melalui kolaborasi dengan museum serta berbagai lembaga lain yang memiliki perhatian terhadap warisan intelektual Aceh.
Melalui kerja bersama tersebut, khazanah manuskrip diharapkan dapat diselamatkan tidak hanya secara fisik, tetapi juga kandungan pengetahuannya, sehingga dapat diwariskan kepada generasi mendatang dan memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan, sejarah, bahasa, sastra, serta kebudayaan Aceh.
