Ketua YPCI, Kaprodi BSA UIN Ar-Raniry, dan Tim Peneliti Kembangkan Riset Filologi Kolaboratif Bersama USIM Malaysia
Banda Aceh – Ketua Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI), Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh, bersama Ketua Peneliti melaksanakan penelitian kolaboratif internasional dengan Program Bahasa Arab dan Kesusasteraan Islam, Fakulti Pengajian Bahasa Utama, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM). Kolaborasi ini merupakan bagian dari penelitian bertajuk “Pengembangan Model Kolaborasi Akademik Internasional Berbasis Filologi Arab–Melayu: Studi Kualitatif Kolaboratif UIN Ar-Raniry–USIM.” Penelitian tersebut diarahkan untuk mengembangkan model kerja sama akademik yang sistematis dan berkelanjutan dalam bidang filologi, khususnya kajian manuskrip Arab–Melayu yang memiliki hubungan erat dengan sejarah intelektual dan tradisi keilmuan Islam di kawasan Asia Tenggara. Penelitian kolaboratif ini melibatkan akademisi dan peneliti dari Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh serta Program Bahasa Arab dan Kesusasteraan Islam USIM Malaysia. Kolaborasi difokuskan pada pemetaan potensi kelembagaan, pengembangan kegiatan akademik dan penelitian, penguatan pembelajaran filologi, serta penyusunan model kerja sama internasional yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh kedua institusi. Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry menyampaikan bahwa kerja sama ini memiliki arti strategis dalam memperkuat internasionalisasi program studi sekaligus mengembangkan kajian filologi Arab–Melayu sebagai salah satu bidang keilmuan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara bersama-sama. Aceh dan Malaysia memiliki hubungan sejarah, bahasa, agama, dan intelektual yang sangat kuat. Hubungan tersebut salah satunya dapat ditelusuri melalui ribuan manuskrip Arab–Melayu yang tersebar di berbagai perpustakaan, lembaga dokumentasi, museum, dayah, serta koleksi pribadi di kawasan Nusantara. Karena itu, kajian filologi tidak hanya dipandang sebagai kegiatan membaca dan menyunting teks-teks lama, tetapi juga sebagai upaya untuk merekonstruksi sejarah pemikiran, jaringan keilmuan, tradisi intelektual, bahasa, sastra, agama, serta kehidupan sosial masyarakat Melayu-Islam pada masa lalu. Dalam pelaksanaannya, tim peneliti melakukan pemetaan terhadap berbagai kegiatan yang telah dan belum dikembangkan oleh kedua perguruan tinggi dalam bidang filologi Arab–Melayu. Pemetaan tersebut mencakup aspek kurikulum, pembelajaran dan praktikum filologi, penelitian bersama, publikasi ilmiah, pertukaran akademik, pengembangan sumber daya manusia, serta kemungkinan digitalisasi dan preservasi manuskrip. Selain melakukan pemetaan, penelitian ini juga diarahkan untuk merumuskan model kolaborasi akademik internasional yang lebih terstruktur. Model tersebut diharapkan mencakup mekanisme kelembagaan, pembagian peran antara UIN Ar-Raniry dan USIM, standar operasional prosedur atau SOP kolaborasi, program penelitian dan publikasi bersama, serta roadmap pengembangan kerja sama filologi Arab–Melayu untuk lima tahun ke depan. Ketua Peneliti menjelaskan bahwa salah satu aspek penting dalam penelitian ini adalah mempertemukan pengalaman akademik kedua institusi. Prodi BSA UIN Ar-Raniry memiliki pengalaman dalam pelaksanaan pembelajaran dan praktikum filologi yang memanfaatkan manuskrip sebagai objek pembelajaran mahasiswa, sementara USIM memiliki lingkungan akademik dan sumber daya keilmuan yang potensial untuk memperkuat pengembangan kajian bahasa Arab, kesusasteraan Islam, dan manuskrip Melayu-Islam dalam konteks internasional. Melalui pendekatan kolaboratif tersebut, kedua institusi diharapkan tidak hanya menghasilkan penelitian dalam bentuk laporan akademik, tetapi juga membangun suatu model kerja sama yang dapat diimplementasikan dalam berbagai kegiatan nyata, seperti penelitian bersama dosen dan mahasiswa, seminar dan Focus Group Discussion (FGD) internasional, pertukaran akademik, publikasi bersama, pengembangan kurikulum, digitalisasi manuskrip, serta pengembangan pusat kajian filologi Arab–Melayu. Ketua Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI) menyambut positif penelitian tersebut karena sejalan dengan upaya pelestarian dan pengembangan khazanah intelektual Nusantara. Menurutnya, manuskrip merupakan salah satu sumber primer terpenting dalam memahami sejarah peradaban dan pemikiran masyarakat masa lalu. Keberadaan manuskrip Aceh dan Melayu yang saat ini tersebar di berbagai wilayah bahkan di berbagai negara membutuhkan perhatian akademik yang lebih serius melalui kegiatan inventarisasi, penelitian, digitalisasi, transliterasi, penyuntingan teks, penerjemahan, serta publikasi agar kandungan pengetahuan di dalamnya dapat diakses oleh masyarakat dan generasi mendatang. Kolaborasi antara UIN Ar-Raniry dan USIM juga dinilai strategis karena kedua institusi berada dalam ruang budaya Melayu-Islam yang memiliki akar sejarah intelektual yang saling berhubungan. Manuskrip yang lahir dan berkembang di Aceh tidak dapat dilepaskan dari jaringan keilmuan yang lebih luas di dunia Melayu, demikian pula tradisi keilmuan di Semenanjung Melayu memiliki hubungan dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Aceh dan kawasan Nusantara lainnya. Melalui penelitian ini, para peneliti berharap dapat membangun ekosistem kolaborasi filologi Arab–Melayu lintas negara yang menghubungkan penelitian, pendidikan, digitalisasi manuskrip, publikasi ilmiah, dan pengabdian kepada masyarakat. Kolaborasi tersebut juga diharapkan menjadi langkah awal bagi pengembangan program-program akademik yang lebih luas antara Prodi Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry dengan Program Bahasa Arab dan Kesusasteraan Islam USIM Malaysia. Ke depan, hasil penelitian ini diharapkan dapat melahirkan model kolaborasi akademik internasional yang dapat menjadi rujukan dalam pengembangan kajian filologi Arab–Melayu, tidak hanya bagi UIN Ar-Raniry dan USIM, tetapi juga bagi perguruan tinggi dan lembaga penelitian lain di Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, serta kawasan Asia Tenggara. Melalui sinergi antara perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan organisasi yang bergerak dalam pelestarian khazanah intelektual, penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi nyata dalam menjaga manuskrip sebagai warisan intelektual sekaligus menghidupkan kembali kandungan pengetahuan yang tersimpan di dalamnya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, dan pengembangan peradaban pada masa kini dan mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *