Bireuen – Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia (YPCI) berkolaborasi dengan Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA), Fakultas Adab dan Humaniora UIN Ar-Raniry Banda Aceh dalam memperkuat kegiatan pelestarian dan pengembangan kajian manuskrip di Gampong Awee Geutah, Kecamatan Peusangan Siblah Krueng, Kabupaten Bireuen.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya membangun sinergi antara lembaga yang bergerak dalam bidang penelitian dan pelestarian warisan intelektual dengan perguruan tinggi dalam menjaga khazanah manuskrip Aceh, khususnya naskah-naskah yang ditulis dalam bahasa Arab dan aksara Arab–Melayu atau Jawi.
Awee Geutah memiliki arti penting dalam perjalanan tradisi keilmuan dan kebudayaan Aceh. Kawasan ini memiliki keterkaitan dengan peninggalan Teungku Chik Awe Geutah, dan Rumah Adat serta Makam Teungku Chik Awe Geutah tercatat sebagai bagian dari kawasan cagar budaya Kabupaten Bireuen.
Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry juga memiliki rekam kegiatan akademik filologi di kawasan tersebut. Mahasiswa BSA sebelumnya telah melaksanakan praktikum filologi di Bireuen yang melibatkan masyarakat Gampong Awee Geutah sebagai bagian dari pembelajaran lapangan mengenai manuskrip dan khazanah intelektual lokal.
Melalui kolaborasi ini, YPCI dan Prodi BSA UIN Ar-Raniry berupaya memperkuat keterhubungan antara pembelajaran filologi di perguruan tinggi, penelitian manuskrip, pelestarian warisan budaya, serta keterlibatan masyarakat sebagai pemilik dan penjaga khazanah intelektual lokal.
Kegiatan di Awee Geutah turut melibatkan Akmal Fajri, yang juga merupakan Editor in Chief Jurnal Bahasa dan Sastra Pusaka Cendekia, jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia. Berdasarkan laman resmi jurnal, Akmal Fajri tercatat sebagai Editor in Chief, sedangkan penerbit jurnal tersebut adalah Pusaka Cendekia Indonesia Foundation.
Keterlibatan unsur pengelola jurnal ilmiah dalam kegiatan tersebut menjadi penting karena pelestarian manuskrip tidak hanya berhenti pada penyelamatan benda fisik. Manuskrip juga perlu dikaji secara akademik dan hasil penelitiannya didiseminasikan melalui publikasi ilmiah sehingga pengetahuan yang terkandung di dalamnya dapat dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat akademik secara lebih luas.
Kolaborasi antara YPCI dan Prodi BSA diarahkan untuk membangun ekosistem pelestarian manuskrip yang menghubungkan kegiatan inventarisasi, dokumentasi, digitalisasi, transliterasi, penelitian filologi, pembelajaran mahasiswa, hingga publikasi hasil penelitian.
Dalam konteks pembelajaran, kegiatan lapangan seperti ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk berinteraksi secara langsung dengan objek kajian filologi. Mahasiswa tidak hanya mempelajari teori tentang manuskrip di ruang kuliah, tetapi juga dapat memahami kondisi nyata naskah, lingkungan sosial tempat manuskrip diwariskan, sejarah pemilik atau penjaganya, serta berbagai persoalan yang dihadapi dalam proses pelestarian.
Pendekatan tersebut penting dalam pengembangan kompetensi mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab, terutama dalam bidang filologi Arab–Melayu. Kajian manuskrip membutuhkan keterampilan membaca aksara lama, memahami bahasa dan struktur teks, melakukan deskripsi kodikologis, transliterasi, kritik teks, serta menafsirkan kandungan naskah dalam konteks sejarah dan kebudayaan masyarakat yang melahirkannya.
Bagi YPCI, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat gerakan penyelamatan khazanah intelektual Aceh. Manuskrip yang masih tersimpan di tengah masyarakat membutuhkan perhatian serius karena sebagian di antaranya menghadapi risiko kerusakan akibat usia, kelembapan, kondisi penyimpanan, bencana, maupun keterbatasan pengetahuan mengenai teknik konservasi.
Karena itu, pelestarian naskah membutuhkan pendekatan kolaboratif yang melibatkan masyarakat pemilik manuskrip, akademisi, mahasiswa, peneliti, lembaga adat, pemerintah, dan organisasi yang bergerak dalam bidang kebudayaan serta penelitian.
Kolaborasi ini juga sejalan dengan pengembangan Portal Pernaskahan Aceh (PORNASA) di bawah Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia. PORNASA diarahkan sebagai wadah untuk mendukung pendataan, dokumentasi, penelitian, digitalisasi, dan penyebarluasan informasi mengenai manuskrip Aceh.
Ke depan, hasil dokumentasi dan penelitian terhadap manuskrip di berbagai daerah di Aceh diharapkan dapat dikembangkan menjadi basis data yang lebih terstruktur. Data tersebut dapat mencakup identitas naskah, pemilik atau penjaga koleksi, kondisi fisik, bahasa dan aksara, kandungan teks, dokumentasi digital, hasil transliterasi, hingga penelitian yang pernah dilakukan terhadap manuskrip tersebut.
Selain pelestarian, aspek publikasi ilmiah juga menjadi bagian penting dari ekosistem tersebut. Kehadiran Jurnal Bahasa dan Sastra Pusaka Cendekia diharapkan dapat menjadi salah satu ruang akademik untuk mendiseminasikan hasil penelitian yang berkaitan dengan bahasa, sastra, manuskrip, filologi, dan khazanah intelektual Nusantara. Jurnal tersebut secara resmi diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Cendekia Indonesia dengan Akmal Fajri sebagai Editor in Chief.
Dengan demikian, kolaborasi YPCI dan Prodi BSA UIN Ar-Raniry di Awee Geutah tidak hanya berorientasi pada kegiatan lapangan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun mata rantai akademik yang lebih luas, mulai dari penemuan dan pendataan manuskrip, pelestarian dan digitalisasi, pembelajaran dan penelitian, hingga publikasi serta diseminasi pengetahuan.
Sinergi tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan ke berbagai wilayah lain di Aceh yang memiliki potensi manuskrip dan warisan intelektual, sehingga kekayaan naskah Aceh dapat diselamatkan, dikaji secara ilmiah, serta diwariskan kepada generasi mendatang.
Melalui kolaborasi antara YPCI, Prodi Bahasa dan Sastra Arab UIN Ar-Raniry, pengelola jurnal ilmiah, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan, manuskrip tidak hanya ditempatkan sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan hidup yang dapat memperkuat penelitian, pendidikan, kebudayaan, dan identitas intelektual Aceh di masa depan.
